Belajar Menjadi Ahlus Sunnah

Abozurah.blogspot.com adalah situs berisi artikel seputar Islam, kaum muslimin, pemuda, hukum fiqih, aqidah, ulasan permasalahan, muamalah, wanita, mahasiswa muslim, dan lain-lain. Situs ini bebas dicopi dan dishare. Mohon tidak melupakan kami dalam doa-doa shalih Anda. Amin.

Mukadimah

Assalamu'alaikum ...

Situs ini saya buat secara khusus berisi artikel-artikel islami yang berlandaskan dalil al-Qur`an dan as-Sunnah -insya Allah-. Disebabkan minimnya ilmu penulis, mohon sekiranya pembaca kritis dalam membaca. JIka ditemukan penyimpangan di dalamnya, mohon disampaikan ke penulis lewat message facebook. Dengan senang hati penulis akan menerima dan mengkajinya. Semoga Allah membalas kebaikan orang yang berbuat baik.


Perlu diketahui, dalam takhrij terkadang penulis cantumkan Lihat, maksudnya: [1] penulis mengutip secara makna, atau [2] mengutip dari kutipan lain (tidak melihat langsung kitab aslinya), kecuali sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.


Penulis lebih mendahulukan redaksi Imam al-Bukhari daripada Imam Muslim dalam takhrij muttafaqun 'alaihi kecuali jika tertulis "ini lafazh Muslim" dan urutan takhrij menunjukkan teks hadits yang dicantumkan. Hal ini perlu dijelaskan karena terkadang ada hadits yang setema tapi berbeda sedikit redaksi haditsnya, dan juga agar memantapkan hafalan para pembaca. Demikian dan harap diperhatikan.

Akhirnya, selamat membaca ...


Wassalamu'alaikum ...

Kamis, 16 Agustus 2012

Panduan Ringkas Zakat Fithri

Panduan Ringkas Zakat Fithri




بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّباً مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَاهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ:

«1» Definisi

Secara bahasa zakat berarti ziyâdah (berkembang) dan thahârah (bersih atau suci).

قَالَ عَلِيُّ الْجُرْجَانِي: الزَّكَاةُ فِي اللُّغَةِ الزِّيَادَةُ.

Ali al-Jurjani berkata, “Zakat secara bahasa artinya berkembang.” [At-Ta’rifât (no. 754, hal. 152) olehnya tahqiq: Ibrahim al-Abyari]

قَالَ أَبُو الْحُسَيْنِ ابْنُ فَارِس: قَالَ بَعْضُهُمْ:سُمِّيَتْ زَكَاةً لِأَنَّهَا طَهَارَةٌ. قَالُوْا: وَحُجَّةُ ذَلِكَ قَوْلُهُ جلَّ ثَنَاؤُهُ: (( خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا ))

Abu al-Husain Ibnu Faris berkata, “Mereka (para ulama) berkata, ‘Dinamakan zakat karena mensucikan. Dalilnya adalah firman Allah yang Mahamulia sanjungan-Nya, ‘Ambillah dari harta-harta mereka zakatnya untuk membersihkan mereka dan mensucikan mereka.’ [QS. At-Taubah [9]: 103] [Maqâyisul Lughah (III/12) olehnya]

Secara bahasa fithri artinya ifthâr (berbuka/Idul Fithri)

Jadi, Zakat Fithri adalah harta yang dikeluarkan untuk membersihkan jiwa dari kekurangan-kekurangan dan dosa selama berpuasa pada saat Idul Fihtri atas orang tertentu dengan ketentuan terentu.

«2» Nama-Nama Zakat Fithri

1 - Zakat Fithri, berdasarkan hadits:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضَيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا، قَالَ: فَرَضَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan Zakat Fithri.” [Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 1503) dan Shahih Muslim (no. 984)]

2 - Zakat Ramadhan, berdasarkan hadits:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضَيَ اللّٰهُ عَنْهُ، قَالَ: وَكَّلَنِي رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menugasiku untuk menjaga zakat Ramadhan.” [Shahih: Shahih al-Bukhari (no. 2311, 3275, 5010)]

3 - Sedekah Fithri, berdasarkan hadits:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضَيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا، قَالَ: فَرَضَ النَّبِىُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَةَ الْفِطْرِ.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan sedekah fithri.” [Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 1511) dan Shahih Muslim (no. 984)]

4 - Zakat Fithrah

Penamaan ini tidak memiliki nash yang bisa diruju’. Penamaan ini hanya dipakai oleh para ahli fikih dengan mengqiyaskan sebagaimana ada zakat mâl (harta), maka ada pula zakat fithrah (fithrah artinya khilqah/penciptaan, maksudnya zakat badan/jasad). Fithrah dengan makna khilqah ini terdapat dalam ayat:

(( فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ))

“Fithrah Allah yang diciptakan-Nya manusia di atasnya.” [QS. Ar-Rum [30]: 30]

Makna ini juga disebutkan oleh Ibnu Faris dalam Maqâyisul Lughah (IV/407).

Penamaan ini tidak bisa disalahkan secara mutlak sebagaimana penjelasan Imam an-Nawawi dalam al-Majmu’ (VI/103), hanya saja memakai nama yang ada nashnya adalah lebih dekat kepada kebenaran dan lebih selamat.

«3» Hukum Zakat Fithri

Hukum Zakat Fithri adalah wajib bagi tiap muslim berdasarkan hadits Ibnu Umar yang telah lewat [SB (no. 1503) dan SM (no. 984)], dan karena ia merupakan salah satu dari rukun Islam yang lima.

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللّٰهِ بْنِ عُمَرَ بْن الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: «بُنِيَ الإِسْلامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَأَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُوْلُ اللّٰهِ، وَإِقَامِ الصَّلاةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البِيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ»

Dari Abu Abdirrahman Abdullah bin ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhuma, berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam dibagun di atas lima hal: syahadat lâ ilâha illâllâh dan muhammadur rasûlûllâh, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji ke Baitullah, dan puasa Ramadhan.” [Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 8), Shahih Muslim (no. 16), Sunan at-Tirmidzi (no. 2609), Sunan an-Nasa`i (VIII/107-108), dan Musnad Ahmad (II/26, 93, 120, 143), dan Musnad al-Humaidi (no. 703)]

Zakat termasuk dari kewajiban-kewajiban yang disepakati umat dan telah masyhur diketahui dari perkara yang jelas dari agama. Siapa yang mengingkari kewajibannya maka dia keluar dari Islam dan dibunuh sebagai kafir kecuali jika masih baru  masuk Islam, maka dia dimaafkan karena belum tahu hukumnnya. [Al-Wajîz fi Fiqhis Sunnah wal Kitâbil Azîz (hal. 255) oleh al-Badawi]

Siapa yang menolak membayar zakat disertai mampu dan tahu hukumnya, maka orang tersebut diminta bertobat, jika enggan maka diperangi oleh penguasa kaum muslimin, berdasarkan hadits:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا، أَنَّ رَسُوْلَ اللّٰهِ قَالَ: «أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَأَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُوْلُ اللّٰهِ وَيُقِيْمُوْا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءهَمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلامِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللّٰهِ تَعَالَى»

Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersyahadat lâ ilâha illâllâh dan muhammadur rasûlûllâh, menegakkan shalat, dan membayar zakat. Jika mereka melaksanakan hal tersebut, maka mereka telah memelihara harta dan darah mereka dariku kecuali dengan hak Islam, dan hisab mereka diserahkan kepada Allah Ta’ala.” [Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 25), Shahih Muslim (no. 22), Sunan ad-Daruquthni (I/512, no. 886), dan as-Sunan al-Kubra lil Baihaqi (III/92, 367, VIII/177)]

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضَيَ اللّٰهُ عَنْهُ، قَالَ: لَمَّا تُوُفِّىَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ رَضَيَ اللّٰهُ عَنْهُ وَكَفَرَ مَنْ كَفَرَ مِنَ الْعَرَبِ فَقَالَ عُمَرُ رَضَيَ اللّٰهُ عَنْهُ: كَيْفَ تُقَاتِلُ النَّاسَ وَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰهُ، فَمَنْ قَالَهَا فَقَدْ عَصَمَ مِنِّى مَالَهُ وَنَفْسَهُ إِلاَّ بِحَقِّهِ، وَحِسَابُهُ عَلَى اللّٰهِ» فَقَالَ: وَاللّٰهِ لأُقَاتِلَنَّ مَنْ فَرَّقَ بَيْنَ الصَّلاَةِ وَالزَّكَاةِ، فَإِنَّ الزَّكَاةَ حَقُّ الْمَالِ، وَاللّٰهِ لَوْ مَنَعُونِى عَنَاقًا كَانُوا يُؤَدُّونَهَا إِلَى رَسُولِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَاتَلْتُهُمْ عَلَى مَنْعِهَا. قَالَ عُمَرُ رَضَيَ اللّٰهُ عَنْهُ: فَوَاللّٰهِ مَا هُوَ إِلاَّ أَنْ قَدْ شَرَحَ اللّٰهُ صَدْرَ أَبِى بَكْرٍ رَضَيَ اللّٰهُ عَنْهُ، فَعَرَفْتُ أَنَّهُ الْحَقُّ.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat digantikan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, lalu orang-orang Arab kembali kafir, lalu Umar berkata, Bagaimana Anda akan memerangi manusia (yang enggan menunaikan zakat)? Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Aku diperintah Allah untuk memerangi manusia hingga mengucapkan lâ ilâha illâllâh. Barangisapa mengucapkannya, maka dia telah melindungi harta dan jiwanya dariku kecuali dengan hak Islam, dan perhitungannya terserah Allah.’ Abu Bakar menjawab, ‘Demi Allah! Aku benar-benar akan memerangi siapa yang memisahkan antara shalat dan zakat karena zakat adalah hak harta. Seandainya mereka menahan hartanya dariku yang dulu pernah mereka tunaikan kepada Raulullah, benar-benar aku akan memerangi mereka karena keengganan itu.’ Umar berkata, ‘Demi Allah! Tidaklah dia kecuali Allah telah melapangkan dada Abu Bakar untuk memeranginya, sehingga tahulah aku bahwa itulah yang benar.’” [Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 1399 dan 1400) dan Shahih Muslim (no. 20)]

«4» Fungsi Zakat Fithri

Adalah untuk menutupi kekurangan-kekurangan dalam puasa seperti perkataan yang sia-sia dan rafats (perkataan yang menjurus kepada hubungan suami-istri) dan lain-lain yang mengurangi pahala puasa.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: فَرَضَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ، مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan Zakat Fithri untuk membersihkan orang yang berpuasa dari perkataan yang sia-sia dan rafats, sebagai pemberian makan kepada orang-orang miskin. Barangsiapa menunaikannya sebelum shalat Id maka ia zakat yang diterima, dan barangsiapa menunaikannya setelah shalat maka dia manjadi sedekah biasa.” [Hasan: Sunan Abu Dawud (no. 1609), Sunan Ibnu Majah (no. 1827)]

Itulah di antara sebab mengapa zakat orang kafir tidak sah dan tidak diterima, karena fungsi Zakat Fithri sebagai pembersih jiwa dan hal ini tidak pantas bagi orang kafir.

«5» Kepada Siapa Zakat Diwajibkan?

Zakat diwajibkan kepada setiap muslim baik laki-laki atau perempuan, orang merdeka atau budak, anak kecil atau orang dewasa.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضَيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا، قَالَ: فَرَضَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ، وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى، وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan Zakat Fithri satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum atas hamba dan orang merdeka, lelaki dan perempuan, anak kecil dan dewasa dari kaum muslimin.” [telah berlalu takhrijnya]

Semua jenis manusia di atas harus memenuhi tiga syarat sebagai berikut:

1 - Muslim

Zakat orang kafir tidak diterima bahkan ini berlaku untuk semua ibadah dalam Islam, berdasarkan firman Allah:

(( وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللّٰهِ وَبِرَسُولِهِ وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَى وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ ))

“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima nafkah-nafkah mereka kecuali karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, dan tidaklah mereka mendatangi shalat kecuali dengan kemalasan dan tidaklah mereka bersedekah kecuali dengan rasa benci.” [QS. At-Taubah [9]: 54]
Meskipun zakat mereka tidak sah, bukan berarti mereka terlepas dari dosa, justru sebaliknya berdasarkan firman Allah:

(( فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءَلُونَ (٤٠) عَنِ الْمُجْرِمِينَ (٤١) مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ (٤٢) قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ (٤٣) وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ (٤٤) وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ (٤٥) وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ (٤٦) حَتَّى أَتَانَا الْيَقِينُ (٤٧) ))

“Di surga mereka saling bertanya-tanya tentang para pendosa, ‘Apa yang menjerumuskan kalian ke dalam neraka Saqar?’ Mereka menjawab, ‘Kami dulu bukan termasuk orang yang shalat, kami dulu tidak memberi makan orang miskin, kami dulu mengejek bersama orang yang mengejek, dan kami mendustakan hari pembalasan hingga ajal menjemput.” [QS. Al-Muddatstsir [74]: 40-47]

2 - Mampu

Apabila seseorang memiliki makanan pokok untuk dirinya dan keluarganya untuk hari raya dan malamnya, kemudian makanan itu sisa satu sha’, maka hendaklah dia mengeluarkan Zakat Fithrinya. [Syarhul Mumthi’ (VI/151) oleh Ibnu Utsaimin]

Dari sini muncul hukum bahwa anak atau istri atau yang lainnya jika mampu zakat maka zakat ditanggung sendiri. Seandainya belum mampu, baru ditanggung walinya yaitu ayahnya, suaminya, tuan budaknya, atau wali yatimnya.

Terkait satu sha’ akan datang penjelasannya dalam pembahasan Kadar Zakat Fithri khususnya beras, insya Allah.

3 - Mendapati Waktu Zakat

Waktunya wajib zakat dimulai dari terbenamnya matahari pada malam Idul Fithri hingga keluarnya manusia untuk shalat Id dan ini yang afdhal.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضَيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا، قَالَ: فَرَضَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan Zakat Fithri dan memerintahkan untuk ditunaikan sebelum manusia keluar untuk shalat Id.” [Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 1503) dan Shahih Muslim (no. 984)]

Juga diperbolehkan menunaikan zakat sehari atau dua hari sebelum Idul Fithri.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضَيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا، قَالَ: فَرَضَ النَّبِىُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَةَ الْفِطْرِ وَكَانُوا يُعْطُونَ قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan sedekah fithri dan para shahabat menunaikannya sebelum Idul Fithri sehari atau dua hari.”
[Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 1511) dan Shahih Muslim (no. 984)]

Siapa yang menunaikan zakatnya setelah dilaksanakannya shalat Id, maka dia berdosa dan zakatnya tidak diterima tetapi dianggap sedekah biasa sebagaimana dalam hadits Ibnu Abbas yang telah lalu. [Lihat asy-Syarhu al-Mumti’ (VI/172) dan Fatawa Lajnah Da’imah (IX/373)]

«6» Kadar Zakat dan Jenis Makanan yang Dijadikan Zakat

Berdasarkan hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu yang telah lewat, kadar zakat adalah satu sha’. Satu sha’ adalah empat mud. Satu mud adalah satu cakupan kedua tangan lelaki dewasa berperawakan sedang dalam keadaan jari-jemari tidak menggenggam dan tidak pula melebar. [Lihat al-Qamûs al-Muhîth (hal. 407, 955) oleh Fairuz Abadi dan Fathul Bâri (XI/597), dan Fatawâ Lajnah Dâ’imah (IX/365)]

Untuk ukuran beras, satu sha’ sekitar 2,33 kg atau 2,7 liter. Ini berdasarkan uji coba pada tahun 1426 H di pondok pesantren al-Furqan al-Islami yang beralamat di desa Srowo, Kec. Sidayu, Kab. Gresik 661153. Allahu a’lam.

Adapun jenis makanan yang dijadikan zakat adalah gandum, kurma, keju, anggur kering/zabib, dan makanan pokok yang umum dimakan oleh manusia dalam negerinya seperti beras. [Majmu’ Fatawâ (XXV/68) oleh Ibnu Taimiyyah, Syarah Shahih Muslim (VII/61) oleh an-Nawawi, Kifayatul Akhyar (hal. 276)] Berdasarkan hadits:

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ رَضَيَ اللّٰهُ عَنْهُ، قَالَ: كُنَّا نُخْرِجُ فِى عَهْدِ رَسُولِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ. وَقَالَ أَبُو سَعِيدٍ: وَكَانَ طَعَامَنَا الشَّعِيرُ وَالزَّبِيبُ وَالأَقِطُ وَالتَّمْرُ.

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Kami mengeluarkan zakat pada hari Idul Fithri di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa satu sha’ makanan.” Abu Sa’id berkata, “Makanan kami adalah gandum, anggur kering, keju, dan kurma.” [Shahih: Shahih al-Bukhari (no. 1510)]

Adapun menunaikan zakat dengan uang, terdapat dua pendapat. Pendapat pertama membolehkan dan ini madzhab Hanafiyah. Pendapat kedua tidak membolehkan dan ini madzhab Malikiyyah, Syafi’iyyah, dan Hanabilah. Pendapat yang kuat adalah pendapat kedua karena pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah ada dirham dan dinar dan memungkinkan untuk zakat dengan uang, tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya tidak melakukannya. Tidak ragu lagi bahwa mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah lebih sesuai dengan petunjuk.

«7» Yang Berhak Menerima Zakat Fithri

Terdapat dua pendapat. Pendapat pertama, yang berhak menerima Zakat Fithri adalah 8 golongan yang disebutkan oleh ayat:

(( إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللّٰهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللّٰهِ وَاللّٰهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ))

“Sesungguhnya sedekah/zakat itu untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, muallaf yang dirayu hatinya, (untuk memerdekakan) budak, terlilit hutang, untuk jalan Allah, dan ibnu sabil, sebagai suatu karunia dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.” [QS. At-Taubah [9]: 60]

Pendapat kedua, untuk fakir miskin dan ini yang biasa dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam pembagian zakat dan juga berdasarkan hadits Ibnu Abbas:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: فَرَضَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan Zakat Fithri untuk membersihkan orang yang berpuasa dari perkatan yang sia-sia dan rafats, sebagai pemberian makan kepada orang-orang miskin.” [Takhrij telah berlalu]
Juga berdasarkan perkataan penduduk neraka yang enggan berzakat:

(( وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ ))

“Kami dulu tidak memberi makan orang miskin.” [QS. Al-Muddatstsir [74]: 40-47]

Pendapat kedua ini yang lebih kuat dan diikuti oleh jumhur ulama di antaranya: Syaikhul Islam dalam Majmû’ Fatawâ (XXV/73), Ibnul Qayyim dalam Zâdul Ma’âd (II/21), asy-Syaukani dalam Nailul Authâr (III/103), al-Albani dalam Tamâmul Minnah (hal. 387), Ibnu Baz dalam Fatawâ Bin Bâz (XIV/215), dan Ibnu Utsaimin dalam as-Sarhu a-Mumthi’ (VI/184).

Demikian panduan ringkas Zakat Fithri. Materi ini disampaikan di Masjid Thaybah pada 27 Ramadhan 1433 H menjelang Maghrib. Semoga Allah Ta’ala menjadikan ini ikhlas karena-Nya dan menjadi pemberat timbangan bagi penulisnya. Sungguh Rabb-ku Mahadekat dan Maha Pengabul.

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ



Al-Faqir ila afwi rabbih

Abu Zur’ah ath-Thaybi

Read More

Panduan Ringkas Lailatul Qadar

Panduan Ringkas Lailatul Qadar*




(( إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (١) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (٢) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (٣) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (٤) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (٥) ))

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur`an) di malam Lailatul Qadar. Tahukah kamu apa itu Lailatul Qadar? Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan. Para malaikat dan Jibril turun dengan seizin dari Rabb mereka pada malam tersebut untuk mengurus semua urusan dengan menyebarkan salam (kesejahteraan) hingga terbit fajar.” [QS. Al-Qadar [97]: 1-5]

عَنْ مُجَاهِدٌ، قَالَ: كَانَ فِي بَنِي إِسْرَائِيْلَ رَجُلٌ يَقُوْمُ اللَّيْلَ حَتَّى يُصْبِحَ، ثُمَّ يُجَاهِدُ الْعَدُوَّ بِالنَّهَارِ حَتَّى يُمْسِيَ، فَفَعَلَ ذَلِكَ أَلْفَ شَهْرٍ، فَأَنْزَلَ اللّٰهُ هَذِهِ الآيَةَ: ((لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ)) قِيَامُ تِلْكَ اللَّيْلَةِ خَيْرٌ مِنْ عَمَلِ ذَلِكَ الرَّجُلِ.

Dari Mujahid, dia berkata, “Di kalangan Bani Israil ada seseorang yang selalu shalat malam hingga subuh, kemudian berjihad melawan musuh di pagi hari hingga sore hari. Dia mengerjakan itu selama seribu bulan, lalu Allah menurunkan ayat, ‘Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan.’ Shalat pada malam tersebut lebih baik daripada amal lelaki tersebut.” [Tafsir Ibnu Katsir (VIII/443) dan Tafsir ath-Thabari (XXX/167)]

عَنْ عَلِي بِنْ عُرْوَةَ، قَالَ: ذَكَرَ رَسُوْلُ اللّٰهُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا أَرْبَعَةً مِنْ بَنِي إِسْرَائِيْلَ، عَبَدُوا اللّٰهَ ثَمَانِيْنَ عَامًا، لَمْ يَعْصُوهُ طَرْفَةَ عَيْنٍ، فَذَكَرَ: أَيُّوْبُ وَزَكَرِيَا وَحِزْقِيل بِنْ الْعَجُوْزِ وَيُوْشَعُ بِنْ نُوْنٍ. فَعَجِبَ أَصْحَابُ رَسُوْلِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ ذَلِكَ، فَأَتَاهُ جِبْرِيْلُ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ! عَجِبَتْ أُمَّتُكَ مِنْ عِبَادَةِ هَؤُلٓاءِ النَّفَرِ ثَمَانِيْنَ سَنَةً لَمْ يَعْصُوهُ طَرْفَةَ عَيْنٍ؟ فَقَدْ أَنْزَلَ اللّٰهُ خَيْرًا مِنْ ذَلِكَ. فَقَرَأَ عَلَيْهِ: ((إِنَّا أَنزلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ)) هَذَا أَفْضَلُ مِمَّا عَجِبَتْ أَنْتَ وَأُمَّتُكَ. قَالَ: فَسُرَّ بِذَلِكَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنَّاسُ مَعَهُ.

Dari Ali bin Urwah, dia berkata, “Pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan empat orang dari Bani Israil. Mereka beribadah selama 80 tahun dan tidak pernah bermaksiat meskipun sekejab mata. Lalu beliau menyebutkan mereka adalah Ayyub, Zakaria, Hizqil Ibnul Ajuz, dan Yusya’ bin Nun. Kemudian pada shahabat Rasulullah merasa takjub dengan hal itu. Lalu Jibril datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Hai Muhammad! Apakah umatmu merasa takjub dengan ibadah orang-orang tersebut selama 80 tahun dan tidak pernah bermaksiat kepada-Nya meskipun sekejab mata? Sungguh Allah telah menurunkan yang lebih baik daripada itu.’ Lalu dia membacakan kepada beliau, ‘Sesungguhnya Kami telah menurukannya (al-Qur`an) di malam Lailatul Qadar. Tahukah kamu apa itu Lailatul Qadar? Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan.’ Ini lebih utama daripada apa yang membuat takjub umatmu.’ Lalu beliau dan para shahabat yang bersamanya sangat senang.” [Tafsir Ibnu Katsir (VIII/443) dan ad-Durrul Mantsur (XIII/569) oleh as-Suyuthi]

Sungguh ini adalah kabar gembira bagi umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, ketika membawakan hadits tentang Lailatul Qadar, Abu Hurairah mengawali dengan ucapannya, “Rasulullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi kabar gembira kepada para shahabatnya.”

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَشِّرُ أَصْحَابَهُ: «قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، افْتَرَضَ اللّٰهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ»

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kabar gembira kepada para shahabatnya, “Sungguh telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan penuh berkah yang telah diwajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pada bulan tersebut pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa yang terhalang dari kebaikannya, sungguh dia benar-benar rugi.” [Shahih: Musnad Ahmad (no. 8991, XIII/541) dengan lafazh miliknya dan Sunan an-Nasa`i (no. 2106, IV/129)]

Seribu bulan sama dengan 83 tahun lebih 4 bulan. Sedikit sekali dari umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bisa melampaui umur seperti itu. Namun, dengan Lailatul Qadar umat Muhammad bisa mengungguli umat-umat sebelum mereka. Walhamdulillah.

قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ، وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ»

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Umur umatku antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit sekali yang melampaui itu.” [Hasan: Sunan at-Tirmidzi (no. 3550). Dinilai hasan oleh at-Tirmidzi, al-Albani dalam ash-Shahihah (no. 757), dan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (II/240)]

Kapan Turunnya Lailatul Qadar?

Lailatul Qadar turun pada bulan diturunkannya pertama kali al-Qur`an yaitu sepuluh terakhir bulan Ramadhan.

قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ»

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Carilah malam Lailatul Qadar pada sepuluh akhir di bulan Ramadhan.” [Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 2020) dan Shahih Muslim (no. 1169) dari Aisyah radhiyallahu ‘anha]

Lebih akuratnya lagi sepuluh akhir yang ganjil.

قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ»

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Carilah malam Lailatul Qadar pada sepuluh akhir yang ganjil di bulan Ramadhan.” [Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 2017) dan Shahih Muslim (no. 1169) dari Aisyah radhiyallahu ‘anha]

Lebih akuratnya lagi tanggal 27 Ramadhan.

قَالَ أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ: وَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْلَمُ أَيُّ لَيْلَةٍ هِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقِيَامِهَا، هِيَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ.

Ubay bin Ka’ab berkata, “Demi Allah! Aku benar-benar mengetahu malam di mana Rasulullah memerintahkan kami untuk menghidupkannya, yaitu malam kedua puluh tujuh.” [Shahih: Shahih Muslim (no. 762)]

Namun, pendapat mayoritas ulama adalah malam Lailatul Qadar itu berganti-ganti tiap tahun sesuai kehendak Allah. Adapun pernyataan Ubay bin Ka’ab di atas boleh jadi adalah malam Lailatul Qadar yang terjadi pada tahun tersebut.

عَنْ أَبِي قِلاَبَةَ، قَالَ: لَيْلَةُ الْقَدْرِ يَنْتَقِلُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فِي وِتْرٍ.

Dari Abu Qilabah, dia berkata, “Lailatul Qadar berpindah-pindah pada sepuluh terakhir yang ganjil.” [Mushannaf Abdurrazzaq (no. 7699)]

Al-Hafizh Ibnu Hajar berpendapat bahwa sepuluh malam terakhir ini dihitung dari belakang bukan dari depan. Sehingga jika Ramadhan tersebut sebanyak 30 hari, hari ganjil dimulai tanggal 21 dan seterusnya. Namun, jika Ramadhan tahun itu ternyata 29 hari, maka ganjilnya berupa genap. [Allahhu a’lam, kurang lebih seperti ini yang kami ingat dari pemaparan beliau]

Maka, dikarekan kita tidak bisa memastikan apakah Ramadhan tahun ini 29 atau 30 hari maka kita bersungguh-sungguh pada sepuluh malam terakhir baik ganjil maupun genap.

Tanda-Tanda Lailatul Qadar

Tanda Lailatul Qadar turun adalah pada malam hari cuaca tidak terlalu dingin dan indah, sementara pada pagi harinya matahari terbit dengan sinar yang cerah tidak terlalu menyilaukan.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ رَسُولَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ: «لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلْقَةٌ لاَ حَارَّةٌ وَلاَ بَارِدَةٌ، تُصْبِحُ شَمْسُهَا صَبِيحَتَهَا ضَعِيفَةً حَمْرآءَ»

Dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang Lailatul Qadar, “Malam yang indah, cerah, tidak panas, dan tidak dingin. Matahari terbit di pagi hari dengan melemah kemerah-merahan.” [Musnad ath-Thayalisi (no. 2802)]

قَالَ أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ: أَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِي صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَآءَ لَا شُعَاعَ لَهَا.

Ubay bin Ka’ab berkata, “Tanda-tandanya adalah matahari terbit pada pagi hari dalam keadaan cerah tetapi tidak menyilaukan.” [Shahih: Shahih Muslim (no. 762)]

Apa yang Perlu Dikerjakan Pada Sepuluh Hari Terakhir?

Yaitu bersungguh-sungguh dalam beribadah dan ketaatan.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللّٰهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ النَّبِىُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila memasuki sepuluh terakhir mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” [Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 2024) dan Shahih Muslim (no. 1147)]

Di antara bentuk ibadah yang ditekankan adalah shalat malam, memohon ampun, tilawah al-Qur`an, dan bersedekah.

قَالَ النَّبِىُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang shalat pada malam Lailatul Qadar karena keimanan dan mengharap pahala, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” [Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 2014) dan Shahih Muslim (no. 760) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]

عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّهَا قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللّٰهِ! أَرَأَيْتَ إِنْ وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ مَا أَدْعُو؟ قَالَ: «تَقُولِينَ: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي»

Dari Aisyah, bahwa dia berkata, “Wahai Rasulullah! Bagaimana menurutmu jika aku menjumpai Lailatul Qadar, doa apa yang aku panjatkan?” Beliau menjawab, “Berdoalah: Ya Allah! Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampun, maka ampunilah aku.” [Shahih: Sunan Ibnu Majah (no. 3850)]

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dermawan. Keadaan beliau paling dermawan adalah pada bulan Ramadhan saat ditemui oleh Jibril alaihis salam. Dia menemui beliau setiap malam di bulan Ramadhan untuk tadarrus al-Qur`an. Sungguh Rasulullah adalah yang paling dermawan dalam kebaikan melebihi angin yang berhembus.” [Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 6) dan Shahih Muslim (no. 2308)]

Sungguh amat agung keutaman bulan Ramadhan terutama satu malam di dalamnya yang lebih utama daripada seribu bulan. Benarlah, seandainya ada seorang hamba yang terluput darinya keutamaan ini, sungguh benar-benar dia telah rugi.

«مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ»

“Barangsiapa yang terhalang dari kebaikannya, sungguh dia benar-benar rugi.” [Shahih: Musnad Ahmad (no. 8991, XIII/541) dan Sunan an-Nasa`i (no. 2106, IV/129)]

*Materi khutbah Jum’at 21 Ramadhan 1433 H di Masjid Thaybah Surabaya oleh Abu Zur’ah ath-Thaybi. Awalnya berjudul Menyongsong Lailatul Qadar.

Read More
Abu Zur'ah Copy Right. Diberdayakan oleh Blogger.

© 2011 Belajar Menjadi Ahlus Sunnah, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena and Abu Zur'ah ath-Thaybi